SERBAN HITAM MERENUNG TAJAM

Di Balik Tirai Kehidupan

 

Serban hitam membalut kepala,

Renungan tajam menembus segala,

Bukan mencari pujian manusia,

Namun mengenal Tuhan Yang Esa.

 

Diamnya bukan tanda tiada bicara,

Di dalam dada bergelora rasa,

Dunia dipandang sekadar sementara,

Akhirat dituju sepanjang usia.

 

Matanya tajam memandang dunia,

Namun hatinya tunduk kepada Yang Esa,

Ilmu disulam dengan air mata,

Zikir menjadi teman jiwa.

 

Jangan disangka diam itu kosong,

Ada rahsia dalam hati yang merenung,

Semakin tinggi pohon menjulang,

Semakin rendah akarnya memegang.

 

Serban hitam bukanlah mahkota,

Bukan lambang darjat atau kuasa,

Ia sekadar tanda seorang hamba,

Yang mencari reda Allah semata-mata.

 

Kerana akhirnya, wahai pengembara,

Bukan wajah yang dinilai Pencipta,

Bukan serban, bukan jubah manusia,

Tetapi hati yang pulang kepada-Nya.