Bismillah
wash-Shalatu was-Salamu ‘Ala Rasulillah, Amma Ba’du
Mukaddimah
Alam
jin adalah bagian dari alam ghaib, Alam yang tak tersentuh oleh panca indera manusia,
karenanya perlu ada penjelasan yang akurat dari sumber terpercaya, yang bisa
dijadikan rujukan oleh setiap muslim. Hingga tidak ada keraguan dalam meyakini keberadaannya
yang merupakan bagian dari keimanan kepada yang ghaib (lihat QS. Al-Baqarah:
1-3).
Apalagi
bila mencermati media massa –cetak atau elektronik- yang sangat gencar menyajikan
informasi keghaiban tapi tidak disikapi secara Syari`at. Dan kalaupuan ada,
terkadang tidak akurat bahkan melenceng dari aturan syari‟at. Karena itu sudah seharusnya kita menjauhi media massa
yang berbau mistik dan klenik yang tidak sesuai syari`at. Sebab tayangan seperti
itu bisa mejadikan pemirsanya penakut dan paranoid, atau percaya pada mitos dan
takhayyul, yang belum tentu benar.
Berikut
ini beberapa prinsip Islam yang harus di ketahui agar saat kita menerima informasi
tentang dunia jin, tidak melahirkan keyakinan yang salah dan menyimpang.
Prinsip
Islam dalam Menjelajah Alam Jin:
Ikuti
panduan Al-Qur‟an dan as-Sunnah, jangan
cari referensi sembarangan untuk menjelajah alam Jin agar tidak tersesat di jalan.
Setiap informasi tentang alam Jin yang tidak bersumber dari keduanya harus kita
tolak, apalagi info itu bertentangan dengan keduanya. Kita tidak boleh mendahului
ketentuan al-Qur‟an dan as-Sunnah atau berseberangan
dengan keduanya. Allah berfirman dalam al-Qur‟an, “Wahai orang orang yang beriman
janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kalian kepada
Allah sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (QS. al-Hujurat:
1).
Jin
punya misi hidup yang sama dengan manusia. Allah menciptakan jin dan manusia
untuk beribadah kepada-Nya, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk
beribadah kepadaku”. (QS. adz-Dzariat: 56).
Jin
diciptakan dari percikan api yang sangat panas, sebagaimana yang dijelaskan dalam
al- Qur‟an. “Dan dia (Allah) menciptakan
jin dari percikan api neraka”. (QS. ar-Rahman:15).
Jin
adalah ummat seperti halnya manusia, ada yang baik dan ada yang jahat, ada yang
mukmin dan ada yang kafir. Mereka bertingkat tingkat, seperti yang dijelaskan
oleh Allah, “Dan sesungguhnya di antara kami (Jin) ada yang sholeh dan di antara
kami ada yang tidak demikian kami berbeda beda jalan hidup kami”. (QS.
al-Jin:11).
Iblis
adalah termasuk komunitas jin, karena ia membangkang perintah Allah maka disebut
dengan Iblis. Ia bukanlah dari golongan malaikat. Sebagaimana yang ditegaskan
oleh Allah, “Dan ketika kami katakan kepada para malaikat bersujudlah kalian
kepada Adam, maka bersujudlah mereka semua kecuali Iblis adalah dia dari
golongan jin maka dia durhaka dari perintah tuhannya”. (QS. al-Kahfi: 50).
Jin
bisa melihat wujud asli manusia sedangkan manusia tidak bisa melihat wujud asli
jin, kecuali kalau dia menampakkan diri (berubah wujud). Seperti yang
difirmankan Allah, “Sesungguhnya dia (Iblis) dan bangsanya bisa melihat kalian wahai
manusia dan kalian tak bisa melihat mereka”. (QS. al-A‟raf: 27).
Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar lolongan anjing atau ringkikan keledai di malam hari, maka berlindunglah kepada Allah. Karena mereka (hewan tersebut) melihat apa yang tidak bisa kalian lihat.” (HR. Abu Daud).
Syetan
itu sifat. Syetan bukan sosok makhluk tersendiri, tapi hanyalah sifat dan sebutan
bagi setiap pembangkang dari golongan jin dan manusia, dan sebagai musuh bagi
setiap orang beriman. Terkadang Allah menyebut Iblis dalam al-Qur‟an dengan sebutan syetan. Allah berfirman, “Dan demikianlah
kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh, yaitu syetan- syetan (dari jenis)
manusia dan (dari jenis) Jin”. (QS. al- An`am: 112).
Haram
minta pertolongan kepada jin. Meminta pertolongan Jin atau kerjasama dengan
mereka hukumnya haram, karena jin tidak akan pernah membantu manusia kecuali dengan
imbalan. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya ada sekelompok laki laki dari
manusia meminta pertolongan kepada laki laki dari kelompok jin maka bertambalah
bagi mereka kesesatan”. (QS. al –Jin: 6).
Jaminan
perlindungan dari Allah. Orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan
mereka dengan syirik mereka mendapat jaminan perlindungan dari Allah dari
kejahatan Jin. Al-Qur‟an menyatakan, “Dan orang orang yang
beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka akan mendapatkan
keselamatan dan mereka itulah oarang orang yang di beri petunjuk”. (QS.
al-An`am: 82).
Gangguan
jin itu mushibah. Orang mukmin yang terkena gangguan jin berarti mushibah yang
menjadi ujian dari Allah, maka kita harus membantunya dan jangan mencibir atau
mengucilkannya. Gangguan jin pada seseorang itu seperti sakit medis (fisik)
yang dialami seseorang. Jika Allah tidak menghendaki gangguan itu terjadi, maka
tak akan terjadi. Jika Dia menghendaki, maka terjadilah. “Dan mereka (para
tukang sihir) tidak bisa memberi madharat (bahaya) dengan sihirnya pada
seorangpun kecuali dengan izin Allah.”. (QS. al-Baqarah: 102).
Kesurupan
jin pada manusia itu benar adanya, bukan mitos atau takhayul. Jin bisa masuk
dalam tubuh manusia dan mengalir dalam tubuhnya melalui aliran darah.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya syetan mengalir dalam tubuh manusia melalui
aliran darah”. (HR. Muslim).
Gangguan
jin pada manusia merupakan perbuatan zhalim. Gangguan jin terhadap manusia
dengan masuk ke dalam jasadnya adalah tindakan zhalim yang harus di hentikan
untuk keselamatan yang dizhalimi dan yang menzhalimi. Rasulullah bersabda,
“Tolonglah saudaramu yang menzhalimi dan yang terzhalimi, para shahabat bertanya
: „Ya Rasullallah bagaimana cara menolong orang yang menzhalimi?‟ Jawab Beliau, “Hentikan ia dari perbuatan
zhalimnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Ruqyah
syar‟iyah solusi cerdas dan tepat serta aman.
Jika kita atau orang lain diganggu Jin, obatilah dengan terapi ruqyah yang syar‟iyah (sesuai tuntunan Rasulullah). Ruqyah syar‟iyyah adalah terapi solutif yang tepat dan dijamin aman
dari kesyirikan.
Alllah
berpesan, “Dan jika kamu ditimpa suatu gangguan syetan, maka berlindunglah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-A‟raf: 200).
„Aisyah
ra. bercerita, ketika Rasulullah masuk rumahnya, saat itu dia sedang mengobati atau
meruqyah seorang wanita. Maka beliau bersabda: ”Obatilah ia dengan al-Qur‟an”. (Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya).
Jihad
dengan praktik Ruqyah syar‟iyah. Terapi ruqyah syari`yyah
adalah bagian dari jihad fi sabilillah, karena kita melawan para tukang sihir,
para dukun sesat, serta melawan kejahatan musuh Allah, yaitu syetan atau jin zhalim.
Maka jangan asal ruqyah, pastikan terapi ruqyah yang kita pilih adalah yang
syar‟iyah. Karena di luaran sana banyak
praktik ruqyah syirik/ ruqyah syar‟iyah gadungan. Mari kita
dukung praktik ruqyah syar‟iyah untuk mengikis
bejibunnya praktik perdukunan yang marak di masyarakat.
Allah
berfirman, “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang
kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syetan itu,
karena sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah”. (QS. an-Nisa‟: 76).
Jin
makhluk ghaib tapi tidak mengetahui segala keghaiban. Jin walaupun masuk dalam
kategori makhluk ghaib, tapi tidak serta merta mereka tahu segala yang ghaib. Mereka
punya keterbatasan seperti halnya manusia. Jin mengakui sendiri akan kelemahan
dan keterbatasan mereka tersebut seperti yang diberitakan Allah dalam al-Qur‟an. “Dan sesungguhnya kami tidak
mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi, ataukah
Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka”.(QS. Al-Jin: 10).
Di
ayat yang lain Allah menyatakan, “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian
Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap
yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, jin baru
mengetahuinya. Kalau sekiranya mengetahui hal yang ghaib tentulah mereka tidak
tetap dalam siksa yang menghinakan”. (QS. Saba‟: 14).
Penutup
Masalah
ghaib tidak hanya seputar kehidupan jin dan syetan sebagaimana yang banyak
diekspos oleh media massa akhir-akhir ini. Karena jin dan syetan hanya bagian
kecil dari masalah keghaiban yang sangat luas cakupannya. Adanya Allah dan para
malaikat-Nya, Surga dan neraka, kehidupan di alam barzakh, kebangkitan manusia
di padang makhsyar adalah termasuk keghaiban yang tidak diketahui manusia atau jin,
tapi harus dipercayai dan dijadikan sebagai pilar-pilar iman. Semua itu menjadi
rahasia Allah dan Rasul yang telah diberi wahyu tentangnya.
Dan
masih banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan kita, yang termasuk kategori
ghaib karena tidak bisa kita indra dengan panca indra. “Dan pada sisi Allah-lah
kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,
dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai
daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir
biji pun dalam kegelapan bumi dan tiada suatu pun yang basah dan kering, melainkan
tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. al-An‟am: 59).
Dalam
ayat lain, Allah menyuruh Nabi Muhammad untuk meberitahukan kepada umatnya
tentang ketidaktahuannya seputar yang ghaib, “Katakanlah, Aku tidak berkuasa
menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali
yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat
kebajikan sebanyak- banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku
tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita bagi orang-orang
yang beriman.” (QS. al-A‟raf: 188).
Maka
dari itu, janganlah berbicara tentang hal yang ghaib bila tanpa dasar yang valid
dan autentik, yaitu Syari‟at Islam, termasuk
berbicara seputar kehidupan jin dan syetan agar keimanan pada yang ghaib dan
aqidah kita tidak salah.
Wallahu
A‟lam.
Definisi
Jin-dan Setan
jin
menurut bahasa berasal dari lafatz ijtinan yang berarti istitar (sembunyi)
dadri lafazh jannatullailajanahuu yaitu jika malam menutupinya. Mereka sembunyi
dan tidak terlihat oleh mata manusia maka disebut jin. Mereka bisa melihat manusia
tetapi mereka tidak bias dilihat oleh manusia sebagaimana firman Allah I :
Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu den suatu tempat yang
kamu tidak bisa melihat mereka.(AIAraaf27) .
Jin
menurut istilah adalah sebagaimana yang dijelaskan dalam dalil – dalil dari Alquran
dan hadist yang menunjukan bahwa jin diciptakan dari api. Allah befirman: Dan
Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) den api yang sangat panes (AI Hijr
27)
Dan
Kami telah menciptakan jin dari nyala api.(Ar Rahman 15)
Ibnu
Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhahhak berkata bahwa yang dimaksud dari firman
Allah: dari nyala api yaitu “Dariapi murni” dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas:”Dari
bara api‟. (Di dalarn tafsir Ibnu katsir).
Dalil
dari hadis, riwayat dari Aisyaht bahwasannya Rasulullah bersabda: „Malaikat
diciptakan dadri cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari
apa yang disifatkan (diceritakan) bagi kalian. Yaitu dari air mani- (HR.Muslimdidalamkitab
Az Zuhd dan Ahmad di dalam Af Musnad).
Hakikat
Setan
Setan
adalah makhluk yang kafir dari bangsa jin atau manusia, berdasarkan dalil dalil
baik dari Alquran maupun As Sunah. Tidaklah setan disebut kecuali selalu
berarti kekafiran dan keburukan. Berbeda dengan jin, sebagian mereka ada yang kafir
dan sebagian yang lain ada yang mukmin.
Setan
menunjukkan arti setiap yang sombong dan congkak yang diambil dad kata syathana
yang berarti jauh dari kebaikan atau dan kata syaatha yasyiithu yang berarti
hancur binasa atau terbakar. Maka setiap yang congkak, sornbong serta tidak terkendali
baik dari kalangan jin,manusia atau hewan maka disebut setan.
Termasuk
dalam golongan setan adalah Iblis dan para pengikutnya.
Permusuhan
antara manusia dengan setan telah menjadi sejarah yang cukup lama, dimulai
sejak penolakan iblis terhadap perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam.
Allah
berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku
menyuruhmu? Merjawab iblis : Saya lebih baik dari padanya, engkau ciptakan aku
dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah (AIA‟raaf 12)
Ibis
mendahulukan logilk a daripada perintah Allah dlan menempatkan dirinya di atas
kebenaran dengan menghukumi sesuatu sesuai dengan sebab akibat yang dia anggap benar sementara
jelas menentang Allah. Padahal apabila telah datang dalil yang jelas maka yang
jelas dibutuhkan ijtihad. Yang ada hanya mentaatii dan melaksanakan perintah
yang terkandung dalam dalil tersebut, iblis sangat faham bahwa Allah adalah
Rabb Yang Maha Porcipta, Maha Pemilik, Maha Pemberi Rizki dan Maha Pengatur
tiada sesuatpun yang terjadi kecuali atas ijin dan ketetapan nya, akan tetapi
dia ti dak mentaati Allah karena logikanya yang salah sebagaimana ucapannya
yang dsebulkan di dalarn firman Allah : Menjawab iblis: Saya lebih baik dari
padanya Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah (AI
A‟raaf 12)
Make
balasan yang adil atas kebernian Iblis dalarn menentang perintah Alah
sebagaimana disebutkan dalarn firman Nya: Allah berfuman: Turunlah kamu dari Surgaku,
karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalarnnya, maka keluarlah,
sesungguhnya kamu termasuk orang orang yang hina. (AIA‟raaf13)
Pengetahuan
dan keyakinan iblis terhadap wujud dan sifat Allah tidaklah bermanfaat dan juga
siapa saja yang mengedepankan logika daripada perintah Allah sehingga ia bisa
dengan leluasa menerima atau menolaknya atau berhukum dengan perintahAllah
tetapi rnenolak putusan Nya, dalam hal ini maka ilmu dan kepercayaan nya
tentang AlIah tidaklah bermanfaat. Jadi iblis dinyatakan kafir dengan disertai
ilmu dan kepercayaan Yang sangat cukup.
Allah
berfirman: Iblis menjawab, Beritangguhlah saya sampai waktu mereka
dbangkitkan.
Allah brefirman Sesungguh nya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh. Iblis menjawab
karena Engku menghukum saya tersesat saya benar,benar akan (rnenghalang –
halangi,) mereka dari jalanmu yang lurus kemudian saya akan mendatangi mereka
deri muka dan dari belakang mereka,dari kanan dan dari kiri mereka den engkau
tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat) (AIA‟raaf 14 -17).
Keinginan
iblis yang sangat kuat dan jahat untuk menyesatkan anak Adam menyingkap tabiat
jahat iblis. Dia adalah makhluk yang benar benar jahat bukan sifat yang hanya
bersifat sementara, dia makhluk pembangkang dan terkutuk yang murni jahat.
Iblis
menjadi makhluk terlaknat dan terkutuk serta memiliki sifat sombong lagi jahat
dan Allah memberikan kesempatan hidup yang sangat panjang. Teraknat dan
terkutuklah iblis dikarenakan maksiat sombong kepada Allah Yang menjadikan dia
makluk terhina padahal sebelumnya dia termasuk makhluk yang terhormat Karena penolakannya
terhadap perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam mengakibatkan dia terusir
dari rahmat Allah..
Karena
itu iblis basumpah dan berjanji untuk menyesatkan anak Adam dari jalan Allah
yang huus dan menutup rapat jalan bagi setiap orang yang ingin rnelintasinya,
Menutup rapat semua jalan menuju keimanan dan ketaatan yang bisa mendatangkan
ridha Allah. Dia tidak akan berhenti menggoda setiap manusia dari seluruh penjuru
untuk menghalangi mereka dari keimanan dan ketaatan, Allah menjwab ikrar iblis
dengan firman Nya:
Allah
berfirman, Keluadah kamu dari Surga itu sebagai orang terhina lagi terusir
Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu benar-benar akan mengisi
neraka Jahanam dengan kamu semuanya. (AI A‟raaf l8 )
Dalam
hal ini Allah memberi kesempatan begi iblis dan pengikutnya untuk menyesatkan
dan Allah juga memberi kepada anak Adam kesempatan memilih sebagai ujian dan
cobaan dan semua itu berdasarkan kehendak Allah yang ditangan-Nya seluruh keputusan
di alam semesta ini, dengan kehendak Allah iblis dijadikan makhluk yang
memiliki keistimewaan tertentu..
Tetapi
Allah tidak membiarkan berjuang tanpa petunjuk dan pedoman serta senjata untuk
melawan kejahatan iblis. Alquran dan As Sunnah yang Shahih sudah cukup sebagai petunjuk
dan sen jata untuk berlaga dalamPertempuran.
assalamualaikum
wr.wb…
mengenai
jin dan setan ini berkaitan dengan perguruan tenaga dalam yang dengan latihan olah
napas dan jurus2 tertentu sehingga dapat melihat dan mengusir/membakar setan
/jin kafir, ada bbrp golongan muslim ormas/parpol di indonesia yang agaknya
kurang setuju mengenai tanaga dalam, dan perihal dapat melihat jin. menurut
mereka orang tersebut berarti sudah dipengaruhi jin. mnurut mereka ada cara yang
lebih baik yaitu metode Rukyah dapat mengusir jin kafir. aneh..mereka
mengingkari surat JIN. Di dalam Al Qur‟an Al
jin ayat 1 dan 2, Allah SWT berfirman :
katakanlah
(hai Muhammad) “telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan
(Al Qur‟an) lalu mereka berkata: “sesungguhnya
kami telah mendengarkan Al Qur‟an yang menakjubkan,
(yang)
memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami berimam, kepadanya dan kami
sekali = kali tidak akan menpersekutukan seorang pun denganTuhan kami,
apabila
kita melihat ayat diatas, seharusnya kita mengerti bahwa jin mendengarkan ayat
– ayat Al Qur‟an dan mereka mengaguminnya
lalu sebagian dari mereka berimam. Adalah hal yang sangat aneh apabila jin
dibacakan ayat Al Qur‟an malah jadi kepanasan,
sedangkan ayat diatas menyatakan bahwa ketika jin mendengarkan ayat –ayat Al Qur‟an tidak ada pengaruh ajaib seperti kepanasan atau
mengelepar – gelepar, dan kita tahu pula Rasulullah SAW langsung
membacakannya. Rasulullah SAW sendiri ketika membacakan Al Qur‟an tidak membuat jin kepanasan, malahan banyak yang tadinya
kafir takjud menjadi jin yang berimam kepada Allah SWT. Jadi sebetulnya aneh sekali
kalau pe-Ruqyah dapat membuat jin kepanasan dengan ayat – ayat Al Qur‟an, Rasulullah SAW tidak begitu.
Saudara
saudara ku seluruh umat muslimin dan muslimat , seiring dengan gencarnya
promosi Ruqyah dimana mana , kita harus mengetahui secara penuh apa itu Ruqyah .
Ibnu Mas‟ud menuturkan : aku telah
mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya
Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah adalah syirik.”(HR. Ahmad dan Abu Dawud )
TAMIMAH
adalah sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak untuk menangkal dan menolak
penyakit „ain. Jika yang dikalungkan itu berasal dari ayat-ayat Al Qur‟an, sebagian ulama salaf memberikan keringanan dalam hal ini
; dan sebagian yang lain tidak memperbolehkan dan melarangnya, diantaranya Ibnu
Mas‟ud
RUQYAH
yaitu : yang disebut juga dengan istilah Ajimat. Ini tidak diperbolehkan karena
menjurus kearah hal hal yang syirik, karena Rasulullah SAW telah mencontohkan mendoakan
pada orang sakit tanpa menjampi jampi nya dan itu hanya sekedar mendoakan ,
sisanya ikhtiar .
A‟isyah r.a berkata : Biasa Nabi SAW jika menjenguk orang
sakit atau didatangi orang sakit mendo‟akan :
Hilangkan bahaya , ya Tuhannya manusia , sembuhkanlah , hanya engkau yang dapat
menyembuhkan , tiada kesembuhan kecuali daripadamu , sembuh yang tidak
dihinggapi penyakit ( Bukhari , Muslim )
TIWALAH
adalah sesuatu yang dibuat dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat menjadikan seorang
istri mencintai suaminya, atau seorang suami mencintai istrinya. Waki‟ meriwayatkan bahwa Said bin zubair berkata :
“Barang
siapa yang memotong tamimah dari seseorang maka tindakannya itu sama dengan
memerdekakan seorang budak.”
Dan
waki‟ meriwayatkan pula bahwa Ibrahim (An
Nakho‟i) berkata : “mereka ( para sahabat
) membenci segala jenis tamimah, baik dari ayat ayat Al Qur‟an maupun bukan dari ayat ayat Al Qur‟an.”
Apabila
kita bercermin pada hal tersebut , maka sudah jelas bahwa Rasulullah SAW
melarang kita melakukan Ruqyah , Tamimah dan Tiwalah karena itu adalah perbuatan
syirik . Pelaksanaan dari Ruqyah itu sendiri adalah dengan menjampi jampi
seseorang yang sakit baik itu penyakit psikis maupun penyakit fisik . Jampi dan
mantera mantera tersebut menggunakan ayat ayat Al qur‟an atau menggunakan bahasa arab .
Sebagaimana
yang kita ketahui bahwa pada Zaman Jahilyah banyak sekali orang mempelajari
sihir dan mempraktekkannya , caranya adalah dengan menggunakan berbagai macam
bacaan bacaan atau jampi jampi yang disesuaikan dengan suku bangsa itu sendiri misalnya
orang sunda akan menggunakan bahasa sunda kuno untuk mantera sihirnya , orang
arab akan menggunakan bahasa arab ketika menjampi jampi kan sihirnya . Untuk
mengubah pola semacam begitu , Rasulullah SAW tidak melakukannya secara frontal
atau langsung , tetapi dengan cara yang halus dan perlahan lahan untuk
menghindari perpecahan pada umat islam . Allah SWT ber Firman dalam QS.
Al-Baqarah 102 :
[102] Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.
QS.
Al-Falaq :
Katakanlah:
“Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
dari
kejahatan makhluk-Nya,
dan
dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
dan
dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul- buhul,
dan
dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”.
Di
dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa pengerjaan sihir adalah menggunakan bacaan
bacaan tertentu sebagai ritualnya , , dan di ayat selanjutnya sihir banyak pula
dilakukan oleh kaum wanita dengan teknis yang sama yaitu menjampi dan
menghembus pada buhul buhul . Biasanya sihir diikuti dengan berbagai macam syarat
,
agar manteranya ampuh . Kejahatan yang dilakukan oleh para tukang sihir
sebagaimana dan dilakukan oleh syaitan syaitan , disebut syaitan karena sifat
kejahatannya itu sendiri . Kita ketahui pula bahwa yang namanya syaitan itu adalah
sifat , bisa Jin dan bisa pula Manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. An Nas :
Dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Katakanlah:
“Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
Raja
manusia.
Sembahan
manusia.
dari
kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,
yang
membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.
dari
(golongan) jin dan manusia.
Kita
pun bisa menjadi syaitan yang berwujud manusia apabila melakukan kejahatan
kejahatan , malah sering terjadi mungkin kejahatan manusia jauh lebih jahat dari
iblis. Apabila kita melihat dari ayat ayat tersebut diatas , adalah wajar
Rasulullah SAW melarang kita melakukan Ruqyah karena , apa bedanya kita dengan
tukang tukang sihir yang melakukan jampi jampi , hanya jampinya dirubah dengan
menggunakan ayat ayat Al Qur‟an atau dengan bahasa arab .
Al Qur‟an bukanlah kumpulan mantera
mantera , tapi adalah petunjuk bagi kaum yang berpikir . Allah SWT berfirman dalam
QS. Ya Sin 62 :
[62]
Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka
apakah kamu tidak memikirkan?
Pola penyesatan syaitan amatlah sangat halus , terkadang sorga menjadi seperti neraka dan neraka seperti sorga , terlihatnya baik padahal belum tentu . Hal seperti inilah yang harus kita waspadai , karena syaitan itu bisa berkedok apa saja , bahkan bisa berkedok ulama. Kebanyakan masyarakat kita sangat mudah terpengaruh oleh penampilan , asalkan bahasa arab fasih , memakai gamis atau baju koko , pasang janggut tanpa kumis , kening hitam , langsung dipercaya , padahal belum tentu , karena hanya Allah SWT lah yang mengetahui persis bagaimana sebenarnya dibalik penampilan keren itu . Selaku umat islam yang mau berpikir , sebaiknya berhati hati , janganlah terpengaruh oleh penjampi penjampi berkedok agama . Apabila kita melihat dari sejarah , telah dibuktikan bahwa metoda Ruqyah itu sama sekali tidak efektif .
Maka
oleh sebab itu seorang Cendekiawan Muslim bernama Ibnu Sina , merancang
kedokteran yang merupakan metoda amat sangat ilmiah , untuk mengobati orang sakit
secara nyata dan dapat dipertanggungjawabkan . Tidak perlu seseorang itu
disiksa dengan pukulan pukulan , lalu dibiarkan menggelepar gelepar , di jampi
jampi , tanpa mengerti bahwa sebenarnya orang itu stress bukan kesurupan ,
bahkan pernah kejadian orang yang mengalami schizophrenia dikatakan mengalami
bisikan gaib dari Jin , sehingga tambah stress . Ini berbahaya , karena metoda
Ruqyah mengajarkan orang untuk tidak berpikir , dan mengajarkan pula lari kearah
mistis . Mungkin karena menjampi itu lebih mudah daripada berpikir , dan lebih
mudah pula daripada menganalisa secara objektif , dimunculkanlah Ruqyah ini .
Mudah sekali , tinggal menghapal beberapa ayat untuk dijadikan Jampi atau
Mantera , rubah penampilan , pasang tarif administrasi , jadilah pe – Ruqyah .
Allah SWT berfirman dalam QS. Al Baqarah 164 :
[164]
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan
siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan
apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan
bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis
hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi;
Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan.
Allah
SWT di ayat tersebut jelas sekali menyuruh kita untuk berpikir , dan terdapat
puluhan ayat lagi yang menyuruh kita berpikir , tidak ada satupun ayat di Al
Qur‟an menyuruh kita untuk menjampi
jampi . Maka oleh sebab itu , marilah , sebagai umat muslim sejati , sebaiknya
pandai memilah milih , mana yang haq , dan mana yang bathil , karena
perbedaannya sangat tipis sekali . Sejarah menggambarkan Zaman Keemasan Islam
yang sangat luar biasa , sebagaimana terbukti , ilmu pengetahuan banyak sekali
dimunculkan dari Dunia Islam , contohnya Al Jabar atau ilmu hitung , Kimia atau
chemistry , bahkan kedokteran yang dikembangkan oleh Ibnu Sina , tiga contoh
itu membuktikan bahwa seharusnya umat Islam harus lebih pandai berpikir dan
menganalisa , bukannya Japa Mantera yang dirubah pakai bahasa Arab . Melihat
perkembangan sekarang , adalah wajar umat Islam semakin mundur , karena dengan
semakin berkembangnya Ruqyah , masyarakat Islam akan semakin jauh dari berpikir
, bahkan sering sekali Ruqyah dijadikan pembenaran untuk kesalahan yang dilakukan
, contohnya :
Ada
seorang suami yang melakukan penyelewengan , tapi sudah bosan dengan
simpanannya , dan kebetulan anak istrinya sudah membongkar penyelewengannya itu ,
untuk menghindari perceraian dengan istri tuanya sang suami bilang saja dia
melakukan itu tanpa disadari atau seperti tidak bisa mengontrol diri , otomatis
kecurigaan akan mengarah kepada sihir dalam bentuk guna guna pengasihan,
dibawalah sang suami pada seorang pe Ruqyah , ketika di Ruqyah sang suami pura
pura ngamuk seolah olah di tubuhnya ada Jin , toh pe Ruqyah tidak bisa membedakan,
setelah pura pura sembuh karena tadinya tidak apa apa juga , akhirnya
selamatlah perkawinannya karena sang istri memaklumi bahwa suaminya kena pellet
, juga anak anaknya memaklumi , dan sang simpanan bisa di depak jauh jauh .
Ada
seorang anak muda karena cintanya ditolak akhirnya dia jadi stress , dan menderita
schizophrenia . Penderita gangguan kejiwaan ini akan merasa seperti ada yang membisiki
, dan datanglah pada seorang yang katanya pe Ruqyah . Mendengar keluhan
tersebut sang pe Ruqyah karena tidak bisa membedakan penyakit dari Jin atau
gangguan kejiwaan , langsung muncul vonis bahwa itu diganggu Jin , maka di
Ruqyahlah anak muda itu . Berhubung orang yang mengalami gangguan jiwa seperti
ini mudah sekali tersugesti , menggelepar geleparlah dia sampai lama , dan
terdiam setelah kelelahan . Karena sugesti tersebut , anak muda itu merasa
ringan untuk sementara . Tapi keesokan harinya , begitu lagi dan begitu lagi ,
akhirnya dibawalah ke RS Jiwa , di terapi selama dua bulan , Alhamdulillah atas
Izin Allah SWT anak muda tersebut sembuh .
Ada
seorang penderita psikosomatis yang selalu merasa tidak enak badan akibat
stress , selalu mengeluh ini dan itu , setelah di check laboratorium semuanya
normal , karena memang normal , rasa sakit itu muncul dari stress itu sendiri ,
jadinya segala kerasa . Dia jadi curiga itu karena guna guna karena dia tidak
suka ketika dokter bilang bahwa sakitnya itu karena psikis atau stress , itu
menunjukan bahwa dia lemah dan itu tidak disukainya . Ketika datang pada pe
Ruqyah langsung di vonis terkena sihir berupa guna guna katanya , nah inilah
jawaban yang dikehendakinya .Akhirnya di Ruqyah lah dia , tapi setelah puluhan
kali di jampi jampi pakai bahasa arab tak kunjung sembuh , karena memang tidak
ada guna guna , tapi sang pe Ruqyah bilang Jin nya sangat kuat sekali dan dia
kesulitan mengeluarkannya , dan itu memang jawaban paling aman untuk menutupi ketidakmampuan
. Kembalilah dia pada seorang psikiater , setelah diberi obat , seminggu
kemudian badannya membaik , atas Izin Allah SWT .
Inilah
tiga contoh dimana sebetulnya Ruqyah itu sama sekali tidak efektif , hanya
memainkan sugesti dan sugesti , juga membuat kita semakin jauh dari berpikir .
Janganlah kita menilai sesuatu berdasarkan angan angan , sebagaimana Firman Allah
dalam QS. An Nisa 120 – 123 :
Setan
itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan- angan kosong pada
mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan
belaka.
Mereka
itu tempatnya Jahanam dan mereka tidak memperoleh tempat lari daripadanya.
Orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam
surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar
perkataannya daripada Allah?
(Pahala
dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula)
menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya
akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan
tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.
Ayat
di atas menjelaskan bahwa kita harus selalu berpikir objektif dan tidak berangan
angan kosong . Apapun yang datang dari Allah SWT , harus kita kaji secara
mendalam agar kita menjadi umat Islam yang cerdas , kuat secara iman , dan
berpikiran maju .
Jin
Tidak Bisa Di Ruqyah
Di
dalam Al Qur‟an Al jin ayat 1 dan 2, Allah
SWT berfirman :
katakanlah
(hai Muhammad) “telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan
(Al Qur‟an) lalu mereka berkata: “sesungguhnya
kami telah mendengarkan Al Qur‟an yang menakjubkan,
(yang)
memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami berimam, kepadanya dan kami
sekali = kali tidak akan menpersekutukan seorang pun denganTuhan kami,
apabila
kita melihat ayat diatas, seharusnya kita mengerti bahwa jin mendengarkan ayat
– ayat Al Qur‟an dan mereka mengaguminnya
lalu sebagian dari mereka berimam. Adalah hal yang sangat aneh apabila jin
dibacakan ayat Al Qur‟an malah jadi kepanasan,
sedangkan ayat diatas menyatakan bahwa ketika jin mendengarkan ayat –ayat Al Qur‟an tidak ada pengaruh ajaib seperti kepanasan atau
mengelepar – gelepar, dan kita tahu pula Rasulullah SAW langsung
membacakannya. Rasulullah SAW sendiri ketika membacakan Al Qur‟an tidak membuat jin kepanasan, malahan banyak yang tadinya
kafir takjud menjadi jin yang berimam kepada Allah SWT. Jadi sebetulnya aneh sekali
kalau pe-Ruqyah dapat membuat jin kepanasan dengan ayat – ayat Al Qur‟an, Rasulullah SAW tidak begitu.
Bagi
yang mampu berpikir , berpikirlah . Wassalamualaikum Wr. Wb.
Semoga
bermanfaat .
Misi
politis dibalik Ruqyah Oleh : Dicky Zaenal Arifin Assalamualaikum Wr. Wb.
Seiring
dengan maraknya Ruqyah dimana mana, kita seharusnya mewaspadai adanya misi lain
dibalik itu . Beberapa analisa yang seharusnya kita pikirkan lebih mendalam
yaitu :
Pertama,
para peruqyah tergabung dalam suatu partai politik dalam hal ini Partai
Keadilan Sejahtera ( PKS ).
Kedua,
Partai Keadilan Sejahtera memiliki beladiri partai bernama Thifan Po Khan yang
di klaim tidak mengandung unsur jin meskipun mempelajari Tenaga Dalam dengan
istilah Dhat
Ketiga,
Memvonis semua perguruan yang mempelajari Tenaga Dalam pasti dibantu Jin atau
mengandung unsur Jin di dalamnya
Keempat,
Apabila ada perguruan Tenaga Dalam atau senam pernapasan selain Thifan Po Khan
di Ruqyah tidak ada reaksi maka disebutkan Jinnya kuat dan tidak ikhlas untuk
dikeluarkan Jinnya
Kelima,
Menggunakan dalil – dalil yang diragukan dan tidak nyambung dengan keadaan
sebenarnya.
Keenam,
Tidak mau bertabayun atau saling konfirmasi dengan perguruan lain dan tidak mau
mendengar penjelasan di luar sistem atau kelompok mereka
Ketujuh,
Semakin maraknya fenomena Ruqyah dimana mana termasuk sinetron sinetron di televisi
swasta yang mempropagandakan Ruqyah sebagai sarana mengusir Jin sedangkan cara
lain salah dan hanya cara Ruqyah saja yang benar
Kedelapan
, Propaganda ruqyah di salah satu majalah yang dalam hal ini majalah
Ghoib
Kesembilan,
Penyerangan secara argumentasi di berbagai milis internet yang mengatakan
Tenaga Dalam dan senam pernapasan itu sesat tetapi penulisnya menyembunyikan
identitasnya dan selalu menggunakan nama samaran karena ketidakmampuan dalam hal
pembuktian soal seseorang menggunakan jin atau tidak.
Dari
hasil analisa di atas, meskipun baru sebagian, kita seharusnya sudah bisa
membaca bahwa pasti ada sesuatu dibalik ini. Jelas, kalau kita simpulkan, ternyata
ini adalah kendaraan politik dari Partai Keadilan Sejahtera untuk menggalang
massa.
Dimana
mereka melihat bahwa dunia persilatan dan senam pernapasan adalah potensi yang sangat
besar untuk digarap, terutama masyarakat Indonesia yang lebih menyukai hal hal
yang berbau mistis apabila bisa ditarik untuk memberikan suara buat PKS itu
memberikan keuntungan yang sangat besar sekali. Maka langkah pertama dari mereka
adalah harus memfitnah semua perguruan Tenaga Dalam atau senam pernapasan
mengandung unsur Jin kecuali Thifan Po Khan, karena tergabung dalam Partainya,
diharapkan kalau anggota semua perguruan Tenaga Dalam beralih ke Thifan Po Khan
maka suara mereka bisa diarahkan ke PKS . Kedua memanfaatkan tipikal masyarakat
Indonesia yang lebih mudah menerima hal mistis daripada berpikir, maka
digunakan metoda Ruqyah yang sebetulnya adalah jampi – jampi atau mantera
mantera menggunakan bahasa arab atau menggunakan potongan potongan ayat Al Qur‟an .
Ketiga
menggunakan kedok agama berwujud ulama berbaju koko atau jubah agar bisa
dipercaya oleh masyarakat, dimana tipikal masyarakat Indonesia lebih gampang
dipengaruhi dan lebih percaya pada penampilan dan gelar, apalagi fasih
berbahasa arab, itu lebih meyakinkan, kalau perlu bikin saja hadits palsu, toh
orang tidak bakalan tahu, asal menyampaikannya saja dengan sangat meyakinkan,
orang pasti males ngurut dan ngusut itu hadist. percaya saja lah! toh yang
ngomongnya ustadz kok .
Sadarlah
saudaraku sesama muslim yang baik, berpikirlah! Ibnu Shina membuat ilmu
kedokteran karena Ruqyah itu benar benar tidak efektif, selalu menimbulkan
fitnah dan perpecahan, contohnya banyak orang yang sebetulnya dia stress berat
disebut kesurupan karena peruqyahnya tidak bisa membedakan antara stress dengan
kesurupan. jadi di manterai pakai bahasa arab sambil digebuki akibatnya tambah
stress lah orang itu, atau dia pura pura ngamuk seolah olah di tubuhnya ada
Jin, padahal untuk menutupi kesalahan yang dia perbuat, kesalahan apa saja,
biar punya kambing hitam yang namanya Jin, toh peruqyahnya kagak bisa
ngebedain, akibatnya jadi pembenaran bahwa dia melakukan kesesatan itu karena pengaruh
Jin. orang yang punya kemampuan lebih dikatakan dibantu Jin karena peruqyahnya
tidak mampu melakukan seperti yang bisa dilakukan orang tersebut , dan
sebagainya .. dan sebagainya .. dan sebagainya. Lagipula , apa bedanya Islam dengan
agama lain seperti Hindu yang mengusir hantu pakai mantera berbahasa
Sansakerta, Budha mengusir setan dengan bahasa China dan kertas HU, Kristen
mengusir iblis dengan Exorcist dalam hal ini berbahasa inggris
.
Dikarenakan
sulitnya menyerang PDIP, Partai Golkar juga partai lainnya yang cukup besar
maka dicarilah sasaran lain yang lebih gampang yaitu masyarakat yang
pengetahuan agamanya masih kurang , juga kebanyakan mereka tergabung atau
pemilih Partai Politik lain .
Salam,
Saya
hanya ingin menyampaikan komentar mengenai komentar di atas yang mengatakan:
“apa
bedanya Islam dengan agama lain seperti Hindu yang mengusir hantu pakai mantera
berbahasa Sansakerta, Budha mengusir setan dengan bahasa China dan kertas HU,
Kristen mengusir iblis dengan Exorcist dalam hal ini berbahasa inggris”
Di
sini nampak kurangnya pengetahuan komentator yang bersangkutan mengenai agama
lain, khususnya agama Buddha. Dalam agama Buddha (bukan Budha)tidak mengenal istilah
doa untuk pengusiran hantu, tidak ada satupun teks kitab suci agama Buddha yang
berisi mengenai pengusiran hantu. Selain itu bahasa yang dipergunakan dalam
agama Buddha khususnya bahasa induknya adalah bahasa Pali dan Sanskerta. Bahasa
China merupakan bahasa setempat sama seperti bahasa Indonesia yang digunakan
untuk menerjemahkan dari bahasa induk.
Jin
Wali Yang Menjadi Khodam
Assalamualaikum
Warahmatullahi wabarakatuh. Salam takzim. Saat ini saya menginginkan pembantu
jin Islam. Karena itu saya mohon penjelasan. Pertama, bagaimana caranya agar
saya mendapatkan jin Islam, yang sesuai dengan syariat? Kedua, jika sudah
memiliki jin tersebut, apakah saya memiliki kewajiban tertentu dengan jin itu.
Ketiga, saya pernah membaca majalah dari Jawa Timur, di dalamnya terdapat
banyak tawaran masalah jin.
Apakah
ini sesuai atau malah menyimpang dari syariat, karena di sana ada keharusan
membayar mahar yang mahal?
Keempat,
seandainya saya memiliki pembantu jin Islam, apa ada larangan atau pantangan
khusus, di luar syariat Islam? Kelima, jika sewaktu-waktu sudah tidak
diperlukan lagi, bagaimanakah cara melepaskannya? Keenam, perlukah jin itu ruangan
khusus di rumah, dan apakah perilaku jin Islam tersebut sesuai dengan syariat
Islam, atau mengikuti tuannya?
Demikian
pertanyaan saya, mohon maaf bila terdapat kalimat yang kurang berkenan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
M.S.
Jamaluddin
Jawaban:
Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Allah (Swt) berfirman bahwa Dia (Swt) tidak
menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Tugas jin dan manusia
dalam menaati syariatillah sama. Perbedaannya, kalau manusia banyak yang
diangkat jadi nabi dan rasul, sedangkan jin tidak ada yang menjadi nabi dan
rasul. Tapi yang menjadi waliyullah dari kalangan jin itu sendiri tidaklah
sedikit.
Perlu
diketahui, jin itu memiliki alam tersendiri. Jisimnya, sangat lembut. Kehidupan
mereka banyak ditunjang oleh penuhnya udara, tapi jin-jin itu sendiri tidak memiliki
daya tarik bumi. Maka kehidupan mereka lebih peka dan sensitif sekali di dalam
masalah udara. Mereka bisa mengecil, bisa pula membesar.
Karena
alamnya berbeda, dari sinilah mereka dipanggil oleh Allah (Swt) dalam firmannya,
"Hai sekalian jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit
dan bumi, lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan
kekuatan"
(QS:
55.33).
Mengapa
tidak dipanggil oleh Allah (Swt) dengan hanya Ya ma'syaral insi? Hal itu tentu
karena
alam kita yang berbeda. Kedua, asal udaranya penuh, maka mereka bisa terbang untuk
berlomba-lomba menuju ke langit. Namun, setelah kelahiran Baginda Nabi (saw),
semua yang tadinya bisa terbang, menjadi terbatas. Mereka tidak bisa mendekati
langit. Seperti diterangkan dalam beberapa Hadist, atau dalam kitab Maulud
Ad-Dibai, yang menyatakan, setan dan jin itu tidak lagi bisa masuk ke langit,
karena dilempar dengan bola api yang membakar.
Di
antara mereka kemudian oleh Allah ada yang diberi sifat kewalian dan
mendapatkan keistimewaan. Hal ini tidak ada bedanya dengan manusia. Kecuali
masalah kerasulan dan kenabian tadi. Tapi, selain itu, di dalam menjalankan syariatillah,
haji ke Baitillahilharam dan sebagainya itu tetap sama. Adapun mereka yang ada
di planet lain, pasti bisa datang. Istitaah atau kemampuan dalam berhaji itu
juga ada dalam bangsa jin. Karena jauh di planet-planet yang lain di mana
mereka bertempat, kalau mau menjalankan ibadah itu, pasti mereka melakukannya dengan
"transmigrasi" dahulu. Menggunakan peralatan-peralatan yang mereka
miliki, sebab mereka harus menembus planet-planet.
Adapun
masalah khadam, perlu saya jelaskan, khaddam adalah hamba Allah dari kalangan
malaikat yang disuruh oleh Allah dan diberi mandat untuk menjaga asma dan ayat-ayat
Allah. Tapi bukan untuk kepentingan Allah (Swt), melainkan buat menjaga dan
melayani orang- orang yang mau menjalankan asmaillah atau doa-doa yang dari
Al-Qur'an atau doa-doa dari Baginda Nabi Muhammad (saw), ataupun asmaillah dari
salah satu Asmaul Husna.
Maka
barang siapa bisa menjalankan asmaillah tersebut, akan diberi prioritas atau kelebihan
oleh Allah (Swt). Jadi tidak ada yang muskil, asal tauhid kita dijadikan
pegangan.
Satu
contoh yang mudah saja, Allah menciptakan sesuatu bukan untuk sekadar hiasan.
Sekecil apa pun yang diciptakan oleh Allah bukan tidak ada artinya. Semuanya
ada artinya, tinggal kemampuan manusia dalam menggali apa yang diciptakan. Misalnya
pohon-pohonan. Dari pohon, sesuatu yang jelas tidak ada mulutnya, tidak bisa
bicara, kita diberi ilmu oleh Allah untuk mengetahui khasiat-khasiat pohon.
Mulai dari akar, daun, kulit, hingga kayunya.
Apalagi
ayat-ayat yang di dalam Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca dan dimengerti artinya,
tapi tersisip juga khasiat-khasiat, yang tentu melebihi khasiat yang dimiliki
pohon-pohon itu. Munculnya kemusyrikan orang-orang yang berhasil meramu
obat-obatan, karena setelah pasiennya sembuh mereka tidak kembali kepada Allah.
Melainkan justru meyakini bahwa obat itu yang menyembuhkan. Inilah yang
menjadikan syirik. Tapi, kalau kita mengatakan sebatas penyebab, tak masalah.
Itu sudah seharusnya. Artinya, semua itu Allah yang menentukan.
Dalam
kaitan pembantu atau khadam, tak ubahnya seperti kita mempunyai pembantu rumah
tangga yang sangat tergantung pada beban dan keperluan kita. Dalam hal
tolong-menolong, keduanya memiliki keterbatasan, baik yang menolong maupun yang
ditolong. Berbeda dengan Allah, Allah (Swt) tidak mempunyai sifat kekurangan. Mahasempurna
dalam segala sifatnya.
Apakah
jin tidak sama dengan kita, manusia? Jin pun mempunyai kekurangan dan
kelemahan, tak ubahnya manusia. Tapi keduanya diberi Allah kelebihan yang bisa digunakan
untuk saling mengisi kekurangan satu sama lain. Kekurangan yang untuk
mengatasinya tidak bisa digunakan akal atau fisik manusia, bisa diatasi jin muslim
dan mukmin yang mempunyai kelebihan.
Maka
ada istilah "wakalah", atau wakil. Para malaikat yang diberi mandat
oleh Allah (Swt) dan menjaga asmanya atau ayatnya itu mengambil wakalah dari para
jin pilihan yang benar- benar dijamin amanahnya oleh Allah (Swt). Bukan jin
sembarangan. Mereka itulah yang kemudian lebih umum disebut khadam.
Adapun
kalau orang mau minta khadam atau pembantu, tidaklah mudah, dan tidak
sembarangan. Kalau kita berpikir lebih jauh, coba kita koreksi dulu diri kita masing-masing.
Satu contoh, jin yang jadi wakalah para malaikat dalam menjaga ayat, asma, atau
doa yang diangkat oleh Allah, adalah jin-jin yang menjadi waliyullah besar,
tinggi kedudukannya di sisi Allah. Sedangkan kita sendiri itu "pangkatnya"
apa? Kita bisa digolongkan sebagai hamba Allah yang saleh saja sudah beruntung,
apalagi bisa menjadi waliyullah.
Seperti
banyak diterangkan dalam kitab Khazinatul Asrar atau kitab-kitab yang lain,
untuk mempunyai khaddam jin itu syaratnya sangat berat. Jin-jin yang waliyullah
tersebut bilamana mendatangi orang yang menghendakinya mensyaratkan, pertama,
tidak musyrik atau menyekutukan Allah. Kedua, tidak boleh meninggalkan
sunnah-sunnah Baginda Nabi Muhammad (saw). Dan, ketiga, tidak boleh batal
wudlu. Segala syarat tersebut merupakan cara mendekatan diri kepada Allah
(Swt). Sabda Rasulullah, "Barang siapa cinta kepada Allah, akan dicintai
oleh yang lainnya. Barang siapa takut kepada Allah, akan ditakuti oleh lainnya.
Dan barang siapa taat kepada Allah, akan ditaati oleh yang lainnya."
Wajar-wajar
saja kalau mendapatkan pembantu dari kalangan jin, caranya sesulit itu. Para jin
itu kita simpulkan sebagai pelengkap dari kekurangan yang ada pada manusia.
Maka patut kita bertanya pada diri sendiri. Mampukah kita memenuhi
syarat-syarat yang diajukan para khadam itu?
Yang
kedua, dan lebih penting lagi, sudahkah kita mempersiapkan tauhid kita sehingga
pada waktu mempunyai khadam tidak malah terjerumus pada kemusyrikan dan jauh
dari Allah (Swt). Khususnya para waliyullah, kebanyakan tidak mau menggunakan
khadam. Sebab, mereka tak perlu lagi. Kelihatannya enteng, tapi sesungguhnya berat.
Para wali itu takut jika dirinya merasa kebutuhannya kepada Allah menjadi
kurang.
Barang
siapa menginginkan khadam, boleh-boleh saja, asal jangan sampai membawa dirinya
ke jalan kesyirikan. Dan untuk mendatangkan itu, memang ada maharnya, membayar.
Tapi yang saya ketahui, mahar yang dimaksud dalam bentuk puasa, bacaan kita,
atau tirakat kita kepada Allah. Pendekatan kita kepada Allah dan bagaimana kita
bisa memerangi nafsu kita.
Kedekatan
kita kepada Allah itulah yang termasuk mahar, kalau kita ingin mempunyai khadam.
Selanjutnya,
mampukah kita menerima syarat-syarat mahar bila kita bertemu dan diizinkan
Allah untuk berjumpa? Satu contoh, ada yang maharnya tidak boleh meninggalkan
qiyamullail, ibadah pada malam hari, khususnya Tahajud, dan bacaan pendekatan
dirinya kepada Allah dengan membaca tasbih sekian ribu, atau ayat tertentu
sekian ribu. Ada juga yang syaratnya tangannya harus terbuka, tidak boleh
menolak siapa pun yang minta pertolongan. Itu syarat yang diajukan oleh
khadam-khadam tersebut.
Sedangkan
masalah mahar berupa uang, saya tidak bisa menjawab secara tegas. Karena
orang-orang yang demikian mungkin memiliki alasan sebagai pengganti tirakatnya
dan sebagainya. Tapi yang jelas di dalam Al-Qur'an dilarang tegas, "Jangan
menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah."
Kalau
ingin melepaskan hubungan kita dengan para khadam itu, pertama, mengganti
bacaan tertentu yang digariskan dengan bacaan-bacaan yang tidak ada kaitannya dengan
urusan per- khadàm-an tersebut. Yang kedua, harus ada ikrar antara pengambil dan
yang diambil, seperti kita mempunyai pembantu manusia. Misalnya, kita tidak
mampu lagi menggaji. Bacaan itu seperti doa-doa yang langsung saja kepada
Allah, yang di sana tidak ada masalah dengan khadam dan sebagainya, dan dibaca
hanya karena Allah.
Jin,
ada tempatnya tersendiri dalam alam tersendiri, dan tidak akan mengikuti
tuannya. Mereka akan datang apabila dibutuhkan, sesuai dengan fungsi kedudukan ayat
dan asma tersebut. Karena, jin itu sendiri menghargai manusia, ataupun para
malaikat, yang juga menghargai manusia.
